Showing posts with label XI.H SISTEM KOORDINASI. Show all posts
Showing posts with label XI.H SISTEM KOORDINASI. Show all posts
Sabu untuk Stamina, Apa Kata Dokter?

Sabu untuk Stamina, Apa Kata Dokter?

KOMPAS.com — Komedian Nunung dan suaminya ditangkap pihak kepolisian, Jumat (19/7/2019) siang, atas dugaan penyalahgunaan narkotika jenis sabu.
Nunung dan suaminya mengaku mengonsumsi sabu untuk mendoping stamina.

Kata sabu tak asing di telinga, tapi sudah mengertikah Anda mengenai salah satu jenis narkoba ini?

Dokter Adiksi dari Institute of Mental Health Addiction and Neuroscience (IMAN) Jakarta, Hari Nugroho, menjelaskan, sabu atau crystal methamphetamine merupakan turunan dari amfetamin.

"Jika ada orang yang menggunakan sabu untuk alasan stamina, orang tersebut menggunakan sifat stimulan dari sabu," kata Hari saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (20/7/2019) pagi.

Awalnya, amfetamin dalam dunia medis digunakan untuk pengobatan, salah satunya terapi ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder).

Hari menuturkan, sabu merupakan salah satu metamfetamin ilegal berbentuk kristal tawas atau gula batu.

Selain berbentuk kristal, ada pula metamfetamin ilegal yang berbentuk cair dan tablet. Bentuk tabletnya biasa dikenal yaba.

"Sabu ini adalah salah satu zat yang highly addictive karena mekanisme dalam otak yang dapat meningkatkan peredaran dopamin ribuan kali lipat," ujar Hari.
Organ tubuh yang paling dipengaruhi karena pemakaian metamfetamin adalah otak.

Di dalam otak, zat ini akan merangsang pengeluaran dopamin sekaligus menghalangi transporter re-uptake antarsel saraf.

"Sehingga dopamin yang beredar menjadi sangat banyak hingga ribuan kali dari normal. Inilah yang menyebabkan sabu menjadi salah satu zat yang tingkat ketergantungannya tinggi," tutur Hari.

Sebagai tambahan, dopamin mempunyai fungsi memberikan rasa senang dan nikmat. Secara normal otak manusia akan mengeluarkan dopamin saat makan, melakukan hobi, aktivitas seksual, dan lainnya.
Mengapa ilmuwan tak menggolongkan 'pedas' sebagai rasa?

Mengapa ilmuwan tak menggolongkan 'pedas' sebagai rasa?




Tentang sensor  rasa yang ada di lidah. Di sana disebutkan rasa manis berada di ujung, asin di samping, asam di tepi, dan pahit di bagian pangkal. Lalu di mana letak rasa pedas?

Ternyata pedas bukanlah suatu rasa. Pantas kiranya tidak ada distribusi reseptor pedas di lidah kita. Lantas apa sebenarnya pedas itu? Pedas merupakan suatu sensasi panas dan terbakar yang diterima oleh ujung saraf lidah yang disebut papila.

Cabai atau makanan yang menyebabkan sensasi pedas adalah makanan yang mengandung suatu senyawa bernama capsaicin. Semakin banyak capsaicin yang kita makan, kita akan semakin merasa pedas. Lalu, bagaimana capsaicin ini memperngaruhi lidah kita dan menyebabkan kita kepedasan?

Capsaicin yang merupakan suatu partikel ini akan berikatan dengan reseptor yang ada di papila lidah kita. Capsaicin dapat berikatan dengan papila lidah yang mana saja, tak melulu di bagian ujung, samping, atau pangkal. Jadi ga ada hubungannya kalau kata orang makan cabai di pinggir lidah saja biar ga pedas. Intinya, makin banyak papila yang berikatan dengan capsaicin, makin terasa pula sensasi pedas yang kita dapatkan.

Jadi begitulah mengapa kita menganggap ada rasa pedas. Jadi, jika Anda ditanya bagaimana rasa makanannya, masihkah menjawab terasa pedas ?" 

Jika seseorang disuruh untuk menyebutkan rasa itu apa saja, kita akan turut menyebutkan pedas, di samping manis, asin, asam dan pahit. Namun ternyata rasa pedas itu bukan termasuk rasa. Rasa pedas hanyalah sebuah sensasi belaka.

Seperti terlihat pada gambar struktur lidah diatas bahwa reseptor rasa manis berada di ujung, asin di samping, asam di tepi, dan pahit di bagian pangkal. Dalam penjelasan yang kita terima di bangku sekolah tersebut, tak ada reseptor rasa pedas.
Jika dimasukkan dalam konteks mengapa suatu rasa digolongkan sebagai rasa, pedas sudah tidak termasuk. Ada 3 kriteria yang harus terpenuhi yakni:
1.      Berupa rasa harus bisa langsung dikenali,
2.      Punya reseptor lidah sendiri layaknya rasa lain,
3.      Serta memicu respons fisiologi tertentu pada tubuh.

Rasa pedas dengan mudah bisa dikenali, namun rasa pedas tak punya reseptor dan tak memiliki respon fisiologi tertentu pada tubuh. Mengapa? Karena reseptor tidak bereaksi terhadap komponen layaknya rasa lain. Sensasi pedas yang disebabkan senyawa capsaicin tersebut tak ada beda dengan sensasi ketika kulit kita terluka atau terbakar.

Itulah mengapa para ahli tidak memasukan “Pedas” sebagai suatu rasa