Showing posts with label X.I ANIMALIA. Show all posts
Showing posts with label X.I ANIMALIA. Show all posts
Fungsi Antena pada Semu

Fungsi Antena pada Semu


Antena semut ternyata memiliki fungsi untuk berkomunikasi dengan semut lainnya. Mungkin kalian pernah melihat saat semut berpapasan, neraka akan berhenti sejenak. Saat itulah, semut dan semut lain menempelkan antena untuk mengetahui apakah di lingkungan sekitarnya ada makanan atau ada musuh.

Lengkapnya, seperti dikutip dalam buku 'Kisah 1001 Fakta Sains Tersuper di Dunia', seorang peneliti di Universitas New York T.C. Schneirla melakukan sebuah penelitian tentang semut. Dia mengambil sampe seekor semut yang ditaruh di dalam tempat yang berisi makanan. Kemudian, semut lainnya ditaruh didalam yang berisi semut-semut musuh.

Fungsi Antena pada Semut

Schneirla mengamati kelakuan kedua semut, terutama ketika berpapasan. Adapun dari penelitian tersebut dia menyimpulkan bahwa zat kimia yang dikeluarkan dari makanan ataupun dari musuh semut menempel pada semut itu.

Kemudian, ketika bertemu dengan semut kawananya, semut ini akan saling menyapa dengan bersentuhan. Dari bersentuhan inilah zat kimia dari semut akan memberi tahu temannya melalui antena di kepala semut.

Fakta Menarik Mengenai Semut yang Jarang Diketahui

Semut merupakan hewan yang cukup menakjubkan. Ia adalah jenis serangga yang hidup berkelompok. Terkadang semut dapat mengecohkan manusia, bertahan lebih lama dan menggungguli manusia.

Dilansir dari ThoughtCo, sifatnya yang kompleks dan kooperatif memungkinkan semut bertahan dan berkembang dalam kondisi yang menantang individu. Inilah beberapa fakta menarik mengenai semut yang mungkin belum diketahui banyak orang.

Membawa Benda 50 Kali Lebih Berat dari Tubuhnya

Dengan tubuh yang kecil ternyata hal yang cukup menguntungkan bagi semut. 
Dengan ukurannya yang kecil, otot semut lebih tebal daripada hewan yang lebih besar, bahkan manusia. Otot yang tebal itulah memungkinkan semut memiliki lebih banyak kekuatan sehingga dapat membawa benda yang lebih besar dari tubuhnya.

Hidup Berdampingan dengan Dinosaurus

Semut berkembang sekira 130 juta tahun yang lalu pada masa Cretaceous. Fosil semut tertua yang diketahui merupakan semut primitif dan sekarang telah punah bernama, Sphercomyrma freyi, ditemukan di Cliffwood Beach, NJ.

Meskipun fosil yang ditemukan berasal dari 92 juta tahun yang lalu, fosil semut lainnya yang ditemukan terbukti memiliki garis keturunan yang sama dengan semut sekarang. Hal ini menunjukkan evolusi jauh lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.

Sumber : https://techno.okezone.com/read/2019/09/01/56/2099208/ternyata-ini-fungsi-antena-pada-semut


 Platyhelminthes, Ciri dan Pengelompokannya-Biologi Kelas X IPA SMA-MA

Platyhelminthes, Ciri dan Pengelompokannya-Biologi Kelas X IPA SMA-MA




 


Platyhelminthes merupakan kelompokan hewan yang struktur tubuhnya sudah lebih maju dibandingkan dengan Porifera dan Colenterata, dengan ciri-ciri sebagai berikut :

1.    Merupakan hewan triploblastik aselomata, artinya tubuh sudah mempunyai tiga lapisan tubuh (ektoderm, mesoderm dan endoderm), tetapi belum mempunyai rongga tubuh (selom).
2.    Struktur tubuh pipoih dorsoventral, tubuhnya simetris bilateral.
3.    Bagian tubuhnya terdiri atas bagian anterior, posterior, dorsal, ventral dan lateral.
4.   Sistem pencernaan belum sempurna, hanya mempunyai mulut, faring dan usus tanpa anus. Usus bercabang-cabang ke seluruh tubuhnya.
5.    Sebagian besar tidak memiliki sistem respirasi dan ekskresi.
6.    Tidak memiliki sistem peredaran darah.
7.    Bernapas dengan menggunakan seluruh permukaan tubuh dan melalui rongga gastrovaskuler.
8.    Kelompok platyhelminthes tertentu memiliki sistem saraf tangga tali. Sistem saraf tangga tali terdiri atas sepasang simpul saraf (ganglia) dengan sepasang tali saraf yang memanjang dan bercabang-cabang melintangi seperti tangga.
9.    Reproduksi Platyhelminthes dilakukan secara seksual dan aseksual. Pada reproduksi seksual akan menghasilkan gamet. Fertilisasi ovum oleh sperma terjadi didalam tubuh (internal). Fertilisasi dapat dilakukan sendiri ataupun dengan pasangan lain. Reproduksi aseksual tidak dilakukan oleh semua Platyhelminthes. Kelompok Platyhelminthes tertentu dapat melakukan reproduksi aseksual dengan cara membelah diri (fragmentasi), kemudian regenrasi potongan tubuh tersebut menjadi individu baru.
10.  Ada yang hidup bebas dan ada yang hidup sebagai parasit. Platyhelminthes bebas banyak ditemukan dilaut, beberapa di air tawar dan di tempat-tempat lembab. Platyhelminthes yang hidup parasit mempunyai lapisan kutikula, silia, alat penghisap dan mungkin memiliki kait untuk menempel.

CTENOPHORA-Coelenterata-Biologi Kelas X IPA SMA-MA

CTENOPHORA-Coelenterata-Biologi Kelas X IPA SMA-MA



Philum Ctenophora dan Cnidaria dikelompokan sebagai Colenterata. Nama Coelenterata berasal dari kata Coilos yang artinya rongga. Coelenterata sering juga disebut hewan berongga. Hewan ini memiliki organisasi jaringan sederhana dengan hanya dua lapis sel, yaitu sel eksternal dan sel internal.

Semua hewan yang tergolong coelenterata hidup dilaut. Tubuh hewan ini lunak, tak berwarna dan mampu menghasilkan cahaya meskipun tanpa zat posporus (bioluminesensi). Bagian permukaan luar Ctenophora memiliki delapan baris silia yang membantunya gerak di air. Tubuh hewan ini memiiki simetris radial.  Perbedaan dengan Cnidaria adalah pada sistem pencernaannya. Ctenophora memiliki mulut untuk memasukan makanan serta dua lubang anus untuk mengeluarkan air dan kotoran diujung yang lain.

Dinding tubuh Ctenophora dapat dibedakan menjadi mesoderma dan endoderma. Pada umumnya Ctenophora mempunyai nematosista, tetapi tentakelnya mempunyai sel-sel yang menghasilkan zat perekat untuk menangkap mangsa. Contohnya Mnemiopsis, Pleurobrachia, Beroe cucumis, Hormiphora, Cestus veneris, Deiopea sp, dan Ctenoplana sp.

Nama Cnidaria diberikan karena hewan ini memiliki sel-sel knidosit/knidoblas yang berisi organel-organel sengat (nematosista). Sebagian Cnidaria hidup soliter, sedangkan yang lain misalnya hewan karang hidup berkoloni. Hewan ini memiliki simetris radial. Tubuhnya terdiri atas kantong dan rongga gastrovaskuler untuk mencerna makanan. Cnidaria hanya memiliki satu lubang bukaan yang berfungsi sebagai mulut sekaligus anus. Cnidaria menangkap mangsanya dengan tentakel yang kemudia dimasukan kedalam mulut.

Cnidaria memiiki dua bentuk tubuh yaitu polip dan medusa. Polip pada umumnya hidup menetap, sedangkan medusa hidup bebas. Berbagai bentuk polip memiliki fungsi yang berbeda-beda, disebut polimorfisme. Polip vegetatif bertugas mencari makan, dan mempunyai selimut tembus cahaya yang disebut hidroteka. Adapun polip reproduktif dikelilingi selimut tembus cahaya yang disebut gonoteka (contohnya pada Obelia). Bentuk polip contohnya pada Hydra, berbentuk seperti tabung dan memiliki mulut dibagian dorsal yang dikelilingi tentakel. Mulutnya terletak dibagian bawah (bagian oral). Bagian atas tubuh medusa disebut bagian aboral. Beberapa Cnidaria memiliki bentuk polip pada satu tahap hidupnya, kemudian menjadi bentuk medusa ditahap hidup yang lain.


MEMAHAMI KINGDOM ANIMALIA-DUNIA HEWAN

MEMAHAMI KINGDOM ANIMALIA-DUNIA HEWAN




Ciri-ciri hewan ada bermacam-macam, salah satunya adalah cara bergeraknya. Ada hewan yang dapat begerak bebas seperti arthropoda bergerak dengan kakinya, burung terbang dengan sayapnya, orang utan (mamalia) memanjat dengan tangan dan kakinya. Namun ternyata ciri-ciri hewan tidak sesederhana itu.

Hewan adalah makhluk hidup yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.    Eukariotik multiseluler, artinya tubuhnya terdiri dari banyak sel dan setiap selnya mempunyai membran inti.
2.  Sel penyusun tubuh hewan tidak mempunyai dinding sel, tetapi bentuk tubuhnya dipertahankan oleh protein struktural yang berpa serat kolagen dan desmosom.
3.    Heterotropik, artinya hewan memakan organisme lain atau makan bahan organik yang telah terurai.
4.    Mempunyai jaringan khas dan unik yang bertanggungjawab terhadap penghantaran rangsang dan pergerakan yang berupa jaringan saraf dan jaringan otot.
5.    Sebagian besar hewan bereproduksi secara seksual dengan tahapan diploid yang dominan, gametnya merupakan satu-satunya yang bersifat haploid.
Apa Itu TOKSO

Apa Itu TOKSO



Toksoplasmosis

Toksoplasmosis adalah infeksi pada manusia yang ditimbulkan oleh parasit protozoa (organisme bersel satu) Toxoplasma gondii (T. gondii). Parasit ini seringkali terdapat pada kotoran kucing atau daging yang belum matang. Infeksi parasit T. gondii pada orang yang sehat umumnya tidak membahayakan, karena sistem kekebalan tubuh dapat mengendalikan infeksi parasit ini. Namun, penanganan medis serius perlu dilakukan jika infeksi ini menyerang seseorang dengan sistem imunitas rendah atau ibu hamil, guna menghindari komplikasi yang berat.
Toksoplasmosis disebarkan dari hewan ke manusia, bukan antarmanusia, kecuali pada wanita hamil yang dapat menyebarkan infeksi ini pada janinnya. Akibatnya, janin mengalami perkembangan yang lambat. Bahkan dalam kasus infeksi yang lebih berat, dapat terjadi keguguran atau kematian janin dalam kandungan.
Setelah terjadi toksoplasmosis, parasit T. gondii dapat bertahan dalam tubuh dalam kondisi tidak aktif, sehingga memberi kekebalan seumur hidup terhadap infeksi parasit ini. Namun saat sistem imunitas tubuh melemah karena suatu penyakit atau konsumsi obat tertentu, infeksi T. gondii dapat aktif kembali dan memicu komplikasi yang lebih parah.




Gejala Toksoplasmosis
Saat T. gondii menyerang orang yang sehat, gejala bisa saja tidak muncul dan penderita dapat pulih sepenuhnya. Namun pada kasus lainnya, gejala dapat muncul beberapa minggu atau  Gejala yang dirasakan biasanya ringan dan serupa dengan gejala flu, yaitu demam, nyeri otot, kelelahan, radang tenggorokan, serta pembengkakan kelenjar getah bening. Gejala tersebut dapat membaik dalam waktu 6 minggu.
Infeksi T. gondii pada bayi dan anak-anak umumnya ditularkan dari ibu selama masa kehamilan. Gejala lebih serius dapat dialami janin yang terinfeksi parasit ini pada trimester awal kehamilan, berupa kelahiran prematur, keguguran, atau kematian janin dalam kandungan. Sedangkan bayi yang lahir dengan kondisi terinfeksi T. gondii (toksoplasmosis kongenital) akan menunjukkan gejala, seperti:
  • Kulit berwarna kekuningan.
  • Peradangan korion (chrorionitis) atau infeksi di bagian belakang bola mata dan retina.
  • Pembesaran organ hati dan limpa.
  • Ruam kulit atau kulit mudah memar.
  • Kejang.
  • Penumpukan cairan otak di kepala, sehingga kepala menjadi besar (hidrosefalus).
  • Kepala tampak lebih kecil (mikrosefalus).
  • Gangguan intelektual atau retardasi mental.
  • Kehilangan pendengaran.
  • Anemia.
Gejala-gejala tersebut dapat muncul saat bayi lahir, atau baru terlihat beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian.
Sedangkan pada penderita gangguan kekebalan tubuh, gejala infeksi toksoplasmosis ditandai dengan:
  • Sulit bicara, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, pusing, tampak bingung, kejang, hingga koma, jika toksoplasmosis menyerang otak.
  • Ruam, demam, menggigil, lemas, dan sesak napas, jika toksoplasmosis menyebar ke seluruh tubuh.
Penyebab Toksoplasmosis
Toxoplasma gondii merupakan organisme parasit sel tunggal (protozoa) yang dapat menyebarkan infeksi pada hewan dan manusia. Meski parasit ini dapat tumbuh dalam jaringan banyak hewan, namun lebih banyak terdapat dalam tubuh kucing. Parasit ini bertelur dalam lapisan usus kucing, dan bisa keluar bersama kotoran hewan tersebut.
 
 Penyebaran infeksi T. gondii pada manusia terjadi dengan cara:
  • Terpapar kotoran kucing yang mengandung parasit T.gondii.
  • Mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi parasit T. gondii, termasuk daging mentah yang mengandung parasit ini.
  • Melalui plasenta ibu hamil, yang menyebarkan infeksi pada janin.
  • Melalui transfusi darah atau transplantasi organ dari donor yang terinfeksi parasit ini.
Terdapat beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko toksoplasmosis menjadi gangguan kesehatan serius, yaitu:
  • Hamil.
  • Mengonsumsi obat kortikosteroid atau imunosupresif jangka panjang.
  • Menderita HIV/AIDS.
  • Sedang menjalani kemoterapi.
Diagnosis Toksoplasmosis
Dokter dapat mencurigai seorang pasien menderita toksoplasmosis berdasarkan gejala-gejala yang ada. Untuk membuktikannya, perlu dilakukan tes darah gunamengetahui kadar antibodi tubuh terhadap parasit T. gondii. Dari tes darah, bisa didapat hasil negatif dan positif. Hasil negatif berarti tubuh belum terinfeksi atau  kebal terhadap parasit T. gondii. Namun pelaksanaan tes ini bisa saja dilakukan saat tubuh belum membentuk antibodi terhadap parasit ini, sehingga hasilnya menjadi negatif. Untuk memastikannya, tes ini perlu diulang beberapa minggu kemudian. Sedangkan hasil positif menandakan infeksi dalam tubuh sedang aktif atau infeksi ini pernah terjadi sebelumnya.
Pada pasien yang positif terinfeksi toksoplasmosis dan berisiko tinggi mengalami komplikasi, dokter akan melakukan pemindaian MRI untuk mengetahui apakah infeksi sudah menjalar hingga ke otak.
Sedangkan pada ibu hamil, untuk mengetahui apakah toksoplasmosis memengaruhi janin, dokter perlu melakukan tes berupa:
  • Amniocentesis. Dokter akan mengambil sampel air ketuban penderita saat usia kehamilan di atas 15 minggu. Dengan tes ini, bisa diketahui apakah janin turut terinfeksi toksoplasmposis atau tidak.
  • USG. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat tanda-tanda tidak normal pada janin, seperti hideosefalus. Setelah proses melahirkan, bayi akan menjalani serangkaian pemeriksaan untuk melihat adanya kerusakan akibat infeksi.
Pengobatan Toksoplasmosis
Sebagian besar kasus toksoplasmosis hanya digolongkan sebagai sakit ringan, dan tidak memerlukan perawatan medis. Penderita bisa pulih sepenuhnya dalam waktu 6 minggu.
Penangan medis berupa pemberian obat dibutuhkan untuk mengobati penderita toksoplasmosis akut. Obat yang dapat diresepkan dokter untuk kasus ini, antara lain adalah pyrimethamine dan sulfadiazine. Sedangkan pada penderita toksoplasmosis dengan infeksi mata, dapat ditambahkan obat kortikosteroid untuk meredakan peradangan.
Sementara untuk ibu hamil yang terinfeksi toksoplasmosis, penanganan ditentukan berdasarkan saat terjadinya infeksi dan pengaruhnya pada janin. Jika janin belum terkena infeksi atau infeksi terjadi sebelum minggu ke-16 kehamilan, maka dokter akan memberikan antibiotik spiramycin. Obat ini biasa digunakan pada trimester awal kehamilan untuk mengurangi risiko gangguan saraf pada janin. Jika janin sudah tertular toksoplasmosis setelah minggu ke-16 kehamilan, maka dokter akan meresepkan pyrimethamine dan sulfadiazine.
Pada bayi yang lahir terinfeksi toksoplasma, perlu diberikan obat-obatan tersebut selama 1 tahun setelah kelahiran, dan kondisi kesehatan bayi harus terus dipantau selama mengonsumsi obat tersebut.
Untuk menangani toksoplasmosis pada penderita dengan sistem kekebalan tubuh (imunitas) rendah, dokter dapat memberikan obat, seperti pyrimethamine dengan clindamycin. Konsumsi obat ini memerlukan waktu 6 minggu atau lebih lama. Saat toksoplasmosis terjadi kembali pada pasien dengan sistem imunitas lemah, maka pemberian obat dapat diteruskan hingga imunitas tubuh membaik.

Komplikasi Toksoplasmosis
Komplikasi yang dapat ditimbulkan toksoplasmosis, antara lain:
  • Kebutaan. Kondisi ini terjadi pada penderita toksoplasmosis yang mengalami infeksi mata, yang tidak diobati dengan sempurna.
  • Ensefalitis. Infeksi otak serius dapat terjadi pada penderita toksoplasmosis dengan sistem imunitas rendah karena penyakit HIV/AIDS.
  • Gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, dan retardasi mental. Komplikasi ini dapat menimpa penderita toksoplasmosis bayi baru lahir
Pencegahan Toksoplasmosis
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terkena infeksi toksoplasmosis, yaitu:
  • Gunakan sarung tangan saat berkebun atau memegang tanah.
  • Hindari mengonsumsi daging mentah atau setengah matang.
  • Cucilah tangan sebelum dan sesudah memegang makanan.
  • Cucilah semua peralatan dapur dengan bersih setelah memasak daging mentah.
  • Selalu cuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi.
  • Hindari meminum susu kambing non-pasteurisasi atau produk-produk olahannya.
  • Bagi yang memelihara kucing, hendaknya tetap menjaga kesehatan hewan ini, dan gunakan sarung tangan saat membersihkan tempat kotorannya. Hindari memelihara kucing liar, karena rentan terinfeksi parasit T. gondii.
  • Berikan kucing makanan kering atau kalengan daripada daging mentah.
  • Tutuplah bak pasir tempat bermain anak-anak agar tidak digunakan kucing untuk membuang kotoran.


Sumber : https://www.alodokter.com/toksoplasmosis