Benarkah mandi malam sebabkan paru-paru basah?

Benarkah mandi malam sebabkan paru-paru basah?

KOMPAS.com - Aktivitas yang padat membuat sebagian orang baru bisa mandi di malam hari. Namun, mandi di malam hari sering diyakini sebagai penyebab paru-paru basah

Apa itu paru-paru basah?
Sebelum mencari tahu benar tidaknya rumor bahaya mandi malam ini, ada baiknya ketahui dulu apa itu paru-paru basah.

Paru-paru basah (efusi pleura) adalah kondisi pleura paru-paru yang berisi banyak cairan. Pleura itu sendiri adalah selaput tipis yang membungkus paru-paru dan bagian dalam rongga dada.

Selaput ini bertugas sebagai pelumas untuk memudahkan paru-paru agar bisa bergerak dengan mulus ketika Anda bernapas. Itu sebabnya selaput ini sedikit berair atau “basah”.

Namun, jika pleura terlalu basah atau kelebihan cairan, tentu akan menyebabkan sejumlah gejala.

Beberapa penyakit atau gangguan kesehatan yang dapat menyebabkan pleura kelebihan cairan di antaranya:
Komplikasi bedah jantung
Emboli paru
Penyakit ginjal
Infeksi virus dan bakteri seperti pneumonia atau tuberkulosis
Penyakit autoimun seperti lupus atau rematik (rheumatoid arthritis)
Penyakit hati seperti sirosis
Gagal jantung kongestif
Kanker paru atau limfoma

Paru-paru basah bisa dibilang merupakan masalah kesehatan yang sangat umum. Diperkirakan ada sekitar 1 juta kasus paru-paru basah setiap tahunnya.

Kondisi ini pun dapat dialami oleh siapa saja. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Meski begitu, wanita diketahui lebih rentan mengalami paru-paru basah dibanding pria.

Benarkah mandi malam sebabkan paru-paru basah?

Sampai saat ini tidak ada bukti penelitian ilmiah yang membuktikan mandi malam dapat menyebabkan paru-paru basah.
Udara malam hari memang cenderung lebih dingin dan menusuk. Namun, paru-paru basah hanya bisa disebabkan oleh infeksi atau penyakit lain yang mungkin sudah diderita sebelumnya.

Pada malam hari, suhu udara cenderung lebih dingin. Ini membuat risiko terjadinya infeksi paru-paru dapat meningkat.
Pasalnya, udara dingin dapat membuat saluran pernapasan Anda kering sehingga lebih rentan terinfeksi.

Namun faktor ini saja tidak cukup untuk membuat seseorang mengalami infeksi paru-paru. Masih banyak faktor lain yang terlibat.
Misalnya daya tahan tubuh dan riwayat penyakit sebelumnya.

Mandi malam-malam justru terbukti bermanfaat
Dari penjelasan di atas diketahui bahwa mandi malam bukan penyebab utama paru-paru basah. Sebenarnya, mandi malam malah menawarkan banyak manfaat kesehatan, lho!

Salah satunya membuat Anda lebih cepat tidur nyenyak. Setelah seharian beraktivitas, guyuran air dapat memberikan efek kesegaran sehingga membuat tubuh dan pikiran Anda lebih rileks

Sehabis mandi, Anda pun akan merasakan sensasi dingin. Nah, sensasi dingin inilah yang mendorong Anda untuk tidur lebih cepat.

Mandi di malam hari juga membantu meningkatkan sirkulasi darah untuk menjaga suhu tubuh yang ideal. Paparan suhu dingin juga dapat memicu sistem perdarahan untuk mengurangi peradangan di dalam tubuh.

Selain itu, mandi malam hari juga dapat membantu mencegah timbulnya jerawat dan masalah kulit lainnya. Ya, sehabis seharian beraktivitas, tubuh Anda pasti dipenuhi keringat, debu, dan bakteri.

Ketika mandi di malam hari, setidaknya saat tidur tubuh Anda sudah dalam keadaan bersih. Dengan begitu, Anda tak perlu takut muncul jerawat secara tiba-tiba di pagi hari.
Sabu untuk Stamina, Apa Kata Dokter?

Sabu untuk Stamina, Apa Kata Dokter?

KOMPAS.com — Komedian Nunung dan suaminya ditangkap pihak kepolisian, Jumat (19/7/2019) siang, atas dugaan penyalahgunaan narkotika jenis sabu.
Nunung dan suaminya mengaku mengonsumsi sabu untuk mendoping stamina.

Kata sabu tak asing di telinga, tapi sudah mengertikah Anda mengenai salah satu jenis narkoba ini?

Dokter Adiksi dari Institute of Mental Health Addiction and Neuroscience (IMAN) Jakarta, Hari Nugroho, menjelaskan, sabu atau crystal methamphetamine merupakan turunan dari amfetamin.

"Jika ada orang yang menggunakan sabu untuk alasan stamina, orang tersebut menggunakan sifat stimulan dari sabu," kata Hari saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (20/7/2019) pagi.

Awalnya, amfetamin dalam dunia medis digunakan untuk pengobatan, salah satunya terapi ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder).

Hari menuturkan, sabu merupakan salah satu metamfetamin ilegal berbentuk kristal tawas atau gula batu.

Selain berbentuk kristal, ada pula metamfetamin ilegal yang berbentuk cair dan tablet. Bentuk tabletnya biasa dikenal yaba.

"Sabu ini adalah salah satu zat yang highly addictive karena mekanisme dalam otak yang dapat meningkatkan peredaran dopamin ribuan kali lipat," ujar Hari.
Organ tubuh yang paling dipengaruhi karena pemakaian metamfetamin adalah otak.

Di dalam otak, zat ini akan merangsang pengeluaran dopamin sekaligus menghalangi transporter re-uptake antarsel saraf.

"Sehingga dopamin yang beredar menjadi sangat banyak hingga ribuan kali dari normal. Inilah yang menyebabkan sabu menjadi salah satu zat yang tingkat ketergantungannya tinggi," tutur Hari.

Sebagai tambahan, dopamin mempunyai fungsi memberikan rasa senang dan nikmat. Secara normal otak manusia akan mengeluarkan dopamin saat makan, melakukan hobi, aktivitas seksual, dan lainnya.
Teki-teki Otak Manusia: Mengapa Kita Bermimpi tentang Orang-orang Mati?

Teki-teki Otak Manusia: Mengapa Kita Bermimpi tentang Orang-orang Mati?

Disalin dari KOMPAS.com - Mimpi menjadi topik paling misterius dalam sains. Hingga kini, alasan manusia bermimpi dan kegunaannya masih diselidiki.

Salah satu yang menarik perhatian ilmuwan adalah mimpi tentang orang mati, terutama orang yang disayangi. Ada banyak orang mengalaminya tetapi beberapa orang tidak.
Joshua Black, psikolog dan peneliti mimpi duka lulusan Brock University baru-baru ini menerbitkan riset menarik di jurnal Dreaming tentang mengapa kita bermimpi tentang orang-orang mati.

Black meneliti dalam 2 tahap. Tahap pertama, mewawancarai 268 orang Amerika Serikat - terdiri dari 150 pria, 116 wanita, dan 2 orang yang tak menyatakan jendernya - yang kehilangan pasangan hidupnya.

Tahap kedua, dia mewawancarai 162 orang - terdiri dari 88 pria dan 74 wanita) - yang kehilangan hewan piaraan kesayangannya.
Para relawan penelitian diminta mengisi kuesioner tentang frekuensi mimpi, intensitas duka, dan keterbukaan pada pengalaman baru.

Hasil penelitian mengungkap bahwa mereka yang punya ingatan kuat dan kecenderungan bermimpi benar-benar mengalami mimpi berjumpa dengan yang disayangi, baik itu orang maupun hewan.

Sementara itu, intensitas duka dan keterbukaan pada pengalaman baru juga secara tidak langsung mempengaruhi ada tidaknya mimpi itu. Jika cukup rela, maka mungkin tidak mengalami mimpi.

"Penting dicatat bahwa dalam dua studi, mereka yang mengalami mimpi cenderung punya gambaran positif tentang yang sudah mati," ungkap Black dalam publikasi risetnya. Ini berbeda dengan mimpi pasca trauma.

Dalam wawancara dengan Psypost April lalu, Black menuturkan, hasil riset ini membantu menjawab pertanyaan orang tentang mengapa dia tidak memimpikan orang yang meninggal.

"Salah satu pertanyaan yang penting sekarang adalah mengapa orang satu bermimpi positif dan yang lain negatif tentang orang yang meninggal. Saya menginvestigasinya dan akan segera memublikasikannya," katanya.
5 Perbedaan Diabetes Tipe 1 dan Tipe 2 yang Harus Diketahui

5 Perbedaan Diabetes Tipe 1 dan Tipe 2 yang Harus Diketahui





Ketika mendengar diabetes, orang-orang mulai berasumsi tentang penyakit ini, yang terkadang tak selalu akurat. Ini karena diabetes mempunyai dua tipe utama, tipe 1 dan tipe 2, di mana tak semua orang tahu perbedaannya. "Membandingkan tipe 1 dan tipe 2 seperti membandingkan apel dengan traktor," kata GaryScheiner, CDE, seorang edukator diabetes dan penulis Think Like a Pancreas. "Satu-satunya kesamaan yang mereka miliki adalah keduanya melibatkan ketidakmampuan untuk mengontrol kadar gula darah," ujarnya.

Berikut ini adalah 5 perbedaan penting dari tipe penyakit ini:

1. Tipe 1 merupakan penyakit autoimun, tipe 2 bukan.

Diabetes terjadi ketika tubuh Anda bermasalah dengan insulin, hormon yang membantu mengubah gula dari makanan Anda menjadi energi. Ketika insulin dalam tubuh Anda tidak terlalu cukup, gula menumpuk dalam darah dan dapat membuat Anda sakit. Orang-orang dengan diabetes tipe 1 dan tipe 2 keduanya menghadapi masalah ini, tetapi bagaimana penyakit ini muncul adalah sesuatu yang sangat berbeda.

Jika Anda menderita diabetes tipe 1, tubuh Anda tidak memroduksi insulin sama sekali. Itu karena tipe 1 merupakan penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh Anda menyerang dan menghancurkan sel-sel pembuat insulin di pankreas Anda. Tidak seorang pun tahu secara pasti apa yang menyebabkan itu, tetapi faktor genetik bisa jadi berperan dalam hal ini.

Sedangkan, pada diabetes tipe 2, tubuh masih memroduksi insulin, tetapi juga tidak menghasilkanya dalam jumlah cukup atau tubuh mempunyai kesulitan menggunakan insulin secara efisien. Faktor risiko utama untuk diabetes tipe 2 termasuk obesitas (terutama jika Anda mempunyai berat badan lebih di sekitar perut Anda) dan tak banyak melakukan aktivitas fisik. Riwayat keluarga yang mempunyai penyakit ini juga dapat meningkatkan risiko Anda.


2. Konsumsi insulin suatu keharusan bagi diabetes tipe 1, pengobatan diabetes tipe 2 lebih bervariasi.

Karena orang dengan tipe 1 tidak dapat memroduksi insulin sendiri, mereka harus melakukan injeksi insulin rutin atau memakai pompa insulin yang melekat pada tubuh mereka. Tanpa insulin, hidup mereka akan berakhir.

Diabetes tipe 2, pilihan pengobatannya lebih banyak. Anda mungkin akan diberi petunjuk untuk memonitor diet Anda, melakukan lebih banyak latihan dan menurunkan berat badan. Tetapi kebanyakan orang dengan diabetes tipe 2 juga mengonsumsi pil yang mendorong tubuh untuk membuat lebih banyak insulin dan atau menurunkan kadar gula darah.

Jika langkah-langkah ini tidak bekerja dan penyakit semakin memburuk, Anda mungkin harus beralih menggunakan suntikan insulin.

3. Gula darah rendah lebih umum terjadi pada diabetes tipe 1.

Gula darah tinggi berbahaya, tetapi gula darah sangat rendah (hipoglikemia) dapat menyebabkan kelemahan, pusing, berkeringat dan gemetar. Dalam kasus yang parah, ini dapat membuat Anda pingsan dan bahkan mengancam nyawa. Ini lebih umum terjadi pada orang-orang dengan tipe 1. Itu karena Anda perlu hati-hati dalam menghitung seberapa banyak insulin yang harus dikonsumsi (melalui suntikan atau pompa) berdasarkan asupan makanan dan tingkat aktivitas. Hal ini memang tidak selalu mudah, mengonsumsi lebih banyak insulin dari yang Anda perlukan dapat membuat tingkat gula darah menurun.

Begitupun jika Anda berolahraga, meskipun menyehatkan, juga dapat menyebabkan gula darah rendah. Jika Anda mengalami gejala hipoglikemia, Anda perlu segera melakukan sesuatu untuk meningkatkan gula darah Anda dengan cepat. Contohnya seperti meminum segelas jus, makan beberapa permen atau konsumsi tablet atau gel yang mengandung glukosa.

4. Makan makanan manis mungkin akan lebih berisiko jika Anda diabetes tipe 2. Terkejut?

Meskipun tidak mudah bagi seseorang untuk menghindari permen, "orang dengan tipe 1 dapat makan apa saja yang mereka inginkan, jika sesuai dengan dosis insulinnya," kata Scheiner. Jadi jika Anda berencana untuk pergi ke pesta ulang tahun, Anda hanya harus mengonsumsi insulin lebih banyak untuk melawan serangan gula dari kue.
Jika Anda menderita diabetes tipe 2, Anda mungkin harus lebih sedikit hati-hati terhadap makanan. Kebanyakan orang dengan tipe 2 tidak mengonsumsi insulin dan artinya tubuh tidak bisa mengatasi dengan mudah apa yang Anda makan. Diabetes tipe 2 juga berkaitan erat dengan obesitas dan konsumsi banyak makanan manis dapat dengan mudah menyebabkan kenaikan berat badan.

5. Tipe 1 biasanya terdiagnosis pada anak-anak, tipe 2 cenderung menyerang kemudian

Meskipun mungkin tipe 1 dapat berkembang pada orang dewasa, ini lebih umum ditemukan ketika masa kanak-kanak. Itu sebabnya, mengapa dulu ini disebut diabetes anak-anak (juvenile diabetes). Diabetes tipe 2, di sisi lain, lebih mungkin terjadi saat usia Anda bertambah: Risiko Anda meningkat setelah usia 45 tahun.

Terlepas dari ketika Anda mencari tahu apakah Anda mempunyai diabetes-atau jenis apa yang Anda miliki-ini penting untuk menanggapinya dengan serius. Banyak orang berpikir, bahwa diabetes tipe 1 merupakan jenis "buruk" dan diabetes tipe 2 hanyalah ketidaknyamanan kecil.

Tetapi keduanya dapat menyebabkan komplikasi serius seperti kebutaan, amputasi dan gagal ginjal. Yang terpenting adalah, kita tetap dapat menjalani kehidupan panjang yang sehat dengan salah satu bentuk penyakit ini. Minum obat seperti apa yang diarahkan, sering memantau kadar gula darah, makan dengan baik, berolahraga dan tidak stres merupakan kuncinya.



Sumber : https://lifestyle.kompas.com
Apa Perbedaan Hepatitis A, Hepatitis B Dan Hepatitis C Yang Kamu Harus Tahu

Apa Perbedaan Hepatitis A, Hepatitis B Dan Hepatitis C Yang Kamu Harus Tahu






Sumber gambar : https://www.suara.com 

Di lansir dari CNN Indonesia | Senin, 01/07/2019 14:05 WIB bahwa Jumlah penderita Kejadian Luar Biasa (KLB) Hepatitis A di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, nyaris mencapai seribu orang. Data mutakhir Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur, Senin (1/7), jumlah korban bahkan menyentuh angka 975 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Jatim, Kohar Hari Santoso mengatakan jumlah itu bertambah sejak pada 27 Juni lalu terdata ada 824 orang, lalu 29 Juni naik menjadi 924 orang, kemudian 30 Juni terus naik menjadi 957 orang.

Jumlah tersebut tersebar di sejumlah kecamatan di Pacitan, yakni di Sudimoro dengan 527 orang, Ngadirojo 176 orang, Sukorejo 82 orang, Tulakan 69 orang, Wonokarto 54 orang, Arjosari 33 orang, Bubakan 25 orang, Tegalombo 5 orang dan Ketrowonojoyo 4 orang.


Lalu apa Perbedaan Hepatitis A, Hepatitis B Dan Hepatitis C dan apa yang harus kita lakukan?


Di salin dari https://health.detik.com, banyak yang mengira semua Hepatitis adalah penyakit hati yang sama, padahal tiap jenisnya berbeda dan mempunyai daya tular dan daya pengobatan yang berbeda pula. Hepatitis itu ada yang kadarnya ringan seperti Hepatitis A dan yang terberat seperti Hepaitis C. Di Indonesia tiga jenis Hepatitis itu adalah A, B dan C yang disebabkan virus. Apa perbedaan dari 3 hepatitis ini?

Hepatitis merupakan peradangan pada hati yang biasanya disebabkan oleh virus. Hepatitis yang terjadi di Indonesia paling banyak disebabkan oleh virus hepatitis A, B dan C.

Hepatitis A, B dan C sama-sama disebabkan oleh virus, yaitu Hepatitis Virus tipe A (HVA), Hepatitis Virus tipe B (HVB) dan Hepatitis Virus tipe C (HVC). Namun ketiga virus menular dengan media yang berbeda.

Selain Hepatitis A, B dan C, di dunia juga ditemukan Hepatitis D, E, F dan G. Hepatitis D merupakan rekan dari infeksi Hepatitis B dan dapat memperparah infeksi, Hepatitis E hampir menyerupai Hepatitis A yang hanya terjadi di negara-negara berkembang. Sedangkan Hepatitis F baru ada sedikit kasus yang dilaporkan. Untuk virus terbaru Hepatitis G, seringkali terjadi pada infeksi bersamaan dengan Hepatitis B dan atau C.

Berikut perbedaan antara Hepatitis A, B dan C, seperti dilansir Mayoclinic, Rabu (9/11/2011):

Hepatitis A

Penularan virus Hepatitis A atau Hepatitis Virus tipe A (HVA) melalui fecal oral, yaitu virus ditemukan pada tinja. Virus ini juga mudah menular melalui makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi, juga terkadang melalui hubungan seks dengan penderita.

Gejala Hepatitis A biasanya tidak muncul sampai Anda memiliki virus selama beberapa minggu. Hepatitis A sangat terkait dengan pola hidup bersih. Dalam banyak kasus, infeksi Hepatitis A tidak pernah berkembang hingga separah Hepatitis B atau C sehingga tidak akan menyebabkan kanker hati. Meski demikian, Hepatitis A tetap harus diobati dengan baik karena mengurangi produktivitas bagi yang harus dirawat di rumah sakit.

Tanda dan gejala Hepatitis A yaitu:

  1. Kelelahan
  2. Mual dan muntah
  3. Nyeri perut atau rasa tidak nyaman, terutama di daerah hati (pada sisi kanan bawah tulang rusuk)
  4. Kehilangan nafsu makan
  5. Demam
  6. Urine berwarna gelap
  7. Nyeri otot
  8. Menguningnya kulit dan mata (jaundice).


Kasus-kasus ringan Hepatitis A biasanya tidak memerlukan pengobatan dan kebanyakan orang yang terinfeksi sembuh sepenuhnya tanpa kerusakan hati permanen.
Perilaku hidup bersih seperti mencuci tangan pakai sabun sebelum makan dan sesudah dari toilet adalah salah satu cara terbaik untuk melindungi diri terhadap virus Hepatitis A.
Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk Hepatitis A, sebab infeksinya sendiri biasanya akan sembuh dalam 1-2 bulan. Namun untuk mengurangi dampak kerusakan pada hati sekaligus mempercepat proses penyembuhan, beberapa langkah penanganan berikut ini akan diberikan saat dirawat di rumah sakit.

1. Istirahat. Tujuannya untuk memberikan energi yang cukup bagi sistem kekebalan tubuh dalam memerangi infeksi.

2. Anti mual. Salah satu dampak dari infeksiHhepatitis A adalah rasa mual, yang mengurangi nafsu makan. Dampak ini harus diatasi karena asupan nutrisi sangat penting dalam proses penyembuhan.

3. Istirahatkan hati. Fungsi hati adalah memetabolisme obat-obat yang sudah dipakai di dalam tubuh. Karena hati sedang mengalami sakit radang, maka obat-obatan yang tidak perlu serta alkohol dan sejenisnya harus dihindari selama sakit.

Pencegahannya untuk Hepatitis A adalah melakukan vaksinasi yang juga tersedia untuk orang-orang yang berisiko tinggi.

Hepatitis B

Hepatitis Virus tipe B (HVB) dapat menular melalui darah dan cairan tubuh manusia yaitu kontak seksual, penularan dari ibu ke janin dalam kandungan dan melalui suntikan atau transfusi darah yang tercemar virus Hepatitis B, seperti pengguna narkoba suntik, pengguna alat kesehatan (jarum, pisau, gunting) yang tidak disterilkan sempurna, tindik, tato, pisau cukur, gunting kuku yang tidak steril.

Berbeda dengan Hepatitis A, virus Hepatitis B pada sebagian orang dapat menyebabkan Hepatitis B kronis, menyebabkan gagal hati, kanker hati atau sirosis yaitu kondisi yang menyebabkan jaringan parut permanen di hati.

Tanda dan gejala Hepatitis B biasanya muncul sekitar 3 bulan setelah terinfeksi dan dapat berkisar dari ringan sampai parah. Tanda dan gejala Hepatitis B hampir sama dengan hepatitis A, yaitu:

  1. Sakit perut
  2. Urine gelap
  3. Demam
  4. Nyeri sendi
  5. Kehilangan nafsu makan
  6. Mual dan muntah
  7. Kelemahan dan kelelahan
  8. Kulit menguning dan bagian putih mata (jaundice).


Kebanyakan orang yang terinfeksi Hepatitis B di saat dewasa sepenuhnya pulih. Namun bayi dan anak-anak jauh lebih mungkin untuk mengembangkan infeksi Hepatitis B kronis. Belum ada obat untuk hepatitis B namun vaksin dapat mencegah penularan penyakit ini.

Penyakit Hepatitis B bukan tidak bisa disembuhkan, namun proses pengobatannya biasanya dilakukan dalam jangka waktu lama atau bahkan seumur hidup. Jika tidak diobati, hepatitis B bisa berkembang menjadi sirosis dan kanker hati.

Pencegahannya seperti Hepatitis A, Hepatitis B bisa dilakukan dengan vaksinasi.

Hepatitis C

Hepatitis C mempunyai tingkat keparahan yang paling tinggi dibanding Hepatitis A dan B. Sama dengan Hepatitis B, Virus hepatitis C ditularkan lewat darah yang jalan utama infeksinya berasal dari transfusi darah atau produk darah yang belum diskrining (pemeriksaan), saling tukar jarum suntik oleh pengguna narkoba suntik (injecting drug user/IDU) serta jarum atau alat tato dan tindik yang tidak steril.

Infeksi virus Hepatitis C juga disebut sebagai infeksi terselubung (silent infection) karena pada infeksi dini seringkali tidak bergejala atau tidak ada gejala yang khas sehingga seringkali terlewatkan. Kebanyakan orang tidak tahu mereka terinfeksi Hepatitis C sampai kerusakan hati muncul atau melalui tes medis rutin.

Jika pun ada gejala, Hepatitis C biasanya hanya menunjukkan gejala seperti flu, yaitu:

  1. Kelelahan
  2. Demam
  3. Mual atau nafsu makan yang buruk
  4. Otot dan nyeri sendi
  5. Nyeri di daerah hati.


Virus hepatitis C adalah virus yang secara genetik amat variatif dan memiliki angka mutasi tinggi, sehingga memungkinkan generasi virus yang beraneka ragam. Akibatnya belum ada vaksin yang berhasil dibuat untuk mencegah infeksi virus hepatitis C.

Sirosis terjadi pada 10-20 persen penderita hepatitis C kronik, dan kanker hati terjadi pada 1-5 persen penderita hepatitis C kronik dalam waktu 20-30 tahun. Serta sekitar 90 persen orang yang baru terinfeksi penyakitnya akan terus berkembang menjadi infeksi kronik.

Untuk Hepatitis C hingga kini belum ada vaksin pencegahnya.