KLASIFIKASI MAHLUK HIDUP-MATERI BIOLOGI SMA-MA KELAS X

KLASIFIKASI MAHLUK HIDUP-MATERI BIOLOGI SMA-MA KELAS X



Kita cenderung merasa tidak puas pada saat menemukan suatu mahluk hidup, kita hanya menyebutkan bahwa mahluk hidup itu adalah tumbuhan atau hewan. Akan tetapi kita juga ingin memberikan nama pada mahluk hidup itu berdasarkan ciri-ciri yang dimilikinya. Misalnya jika dihalaman rumah ada berbagai macam pohon, maka kita ingin bisa menyebutkan nama-nama pohon tersebut, seperti pohon manga, pohon rambutan, pohon jambu air, dan sebagainya.

Semakin maju ilmu pengetahuan dan teknologi maka semakin maju pula para ilmuwan dalam mengelompokan (mengklasifikasikan) mahluk hidup karena makin teliti dan terperinci persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya. Para ilmuwanmengklasifikasikan mahluk hidup berdasarkan banyaknya persamaan dan perbedaan baik morfologi, fisiologi, maupu anatominya.

Mahluk hidup yang mempunyai ciri dan sifat yang sama dimasukan ke dalam kelompok yang sama, jika ditemukan perbedaan ciri dan sifat, maka dipisahkan lagi dalam kelompok lain yang lebih kecil, sehingga dalamkegiatan klasifikasi akan diperoleh kelompok-kelompok mahluk hidup dengan tingkat 9takson0 yang berbeda. Pengelompokan hasil klasifikasi pada tingkat-tingkat yang berbeda atau pada takson yang berbeda disebut TAKSONOMI. Senakin tinggi taksonnya semakin banyak anggotanya, akan tetapi persamaan sifat yang dimiliki anggotanya semakin sedikit. Sebaliknya, semakin rendah taksonnya semakin sedikit anggotanya, akan tetapi persamaan sifat yang dimiliki anggotanya semakin banyak.

1.     Tujuan Dan Manfaat Klasifikasi
Klasifikasi merupakan alat untuk mempelajari keanekaragaman hayati. Cabang biologi yang khusus mengkaji tentang klasifikasi adlah Taksonomi.
Berdasarkan tujuan klasifikasi yang dilakukan para ahli biologi antara lain sebagai berikut:
a.     Menyederhanakan objeek studi agar mudah dipelajari.
b.     Mendeskripsikan ciri-ciri mahluk hidup yang membedakan antar jenis sehingga mudah dikenal.
c.     Mengelompokan mahluk hidup berdasarkan ciri-cirinya.
d.     Mengetahuihubungan kekerabatan antar mahluk hidup.
e.     Mengetahui tingkat evolusi mahluk hidup atas dasar kekerabatannya.


Adapun manfaat klasifikasi adalah sebagai berikut;
a.     Pengklasifikasian mahluk hidup menjadi kelompok-kelompok akan memudahkan dalam mempelajari mahluk hidup yang beraneka ragam.
b.     Klasifikasi dapat digunakan untuk melihat hubungan tingkat kekerabatan antar mahluk hidup yang satu dengan yang lainnya.

2.     Tahapan Klasifikasi.
Srangkaian tahapan yang harud dilakukan untuk mengklasifikasikan mahluk hidup adalah sebagai berikut:
a.     Pengamatan sifat mahluk hidup. Pengamatan adalah tahap atau proses awal klasifikasi dengan cara melakukan identifikasi mahluk hidup satudengan mahluk hidup yang lainnya. Tahapan ini menghasilkan ciri-ciri yang teramati pada mahluk hidup.
b.     Pengelompokkan mahluk hidup berdasarkan pada ciri yang diamati. Hasil pengamatan selanjutnya diteruskan ke tingkat pengelompokkan mahluk hidup. Dasar pengelompokannya adalah ciri dan sifat atau persamaan dan perbedaan mahluk hidup yang diamati.
c.     Pemberian nama mahluk hidup. Pmberian nama mahluk hidup merupakan hal yang penting dalam klasifikasi. Ada beberapa sistem penamaan mahluk hidup antara lain pemberian nama dengan sistem tata nama ganda (binomil nomenclature). Dengan adanya nama mahluk hidup maka ciri dan sifat mahluk hidup akan lebih mudah dipahami.

3.     Sistem Klasifikasi
Sistem klasifikasi pada mahluk hidup dibedakan menjadi 3 macam, yaitu sistem artifisial(buatan), sistem alami, dan sistem filogenik.

a.     Sistem Artifisial(Buatan)
Sistem artifisial adalah sistem klasifikasi yang disusun berdasarkan adanya satu atau sedikit persamaan ciri morfologi, alat reproduksi, lingkunagn tempat tumbuh (habitat) dan daerah tempat penyebaran tanpa memperhatikan kesamaan strukturnya. Misalnya pengelompokan tumbuhan berdasarkan bentuk daun, warna bunga, habitat, dan daerah penyebarannya.
b.     Sistem alami.
Sistem alami adalah sistem klasifikasi yang disusun berdasarkan adanya benyaknya persamaan ciri morfologi (bentuk luar) yang dimiliki oleh mahluk hidup. Misalnya Kuda, gajah, sapid an buaya dikelompokkan dalam hewan berkaki empat.
c.     Sistem filogenik

Sistem filogenik, muncul setelah dikemukakan teori evolusi oleh Charles Robert Darwin tahun 1859, yang menyusun takson berdasarkan sifat morfologi, anatomi, fisiologi, dan jauh dekatnya hubungan kekerabatan antara takson yang satu dengan yang lainnya serta mengacu pada hubungan evolusioner nenek moyang dan keturunannya. Perhatikan diagram pohon filogenik hewan dan tumbuhan pada gambar berikut yang menunjukan urutan evolusi hewan dan tumbuhan.

Perkembangan sistemklasifikasi filogenik adalah sebagai berikut.

1)    Sistem dua kingdom, diperkenalkan oleh Carolus Linaeus pada tahun 1735, yaitu kingdom Vegetabilia dan Animalia.


 2)    Sistem tiga kingdom, disusulkan oleh Haeckel pada tahun 1866, yaitu kingdom Protista, Plantae, dan Animalia.




3)    Sistem empat Kingdom, dikemukakan oleh Herbert Copeland pada tahun 1956. Copeland menambahkan satu kingdom Protoctista, sehingga terdapat empat kingdom yaitu Monera Protoctista, Plantae dan Animalia.

Sumber gambar : https://docslide.net
4)    Sistem lima kingdom, dikemukakan oleh Robert Whittaker pada tahun 1969 yang membagi Protoctista menjadi dua kingdom yaitu Protista dan fungi sehingga menjadi lima kingdom, meliputi Monera, Protista, Fungi, Plantae dan Animalia. Sebelumnya pada tahun 1937 Chatton mengusulkan pembagian mahlukhidup menjadi dua kelompok utama, yaitu Prokariota dan Eukariota yang didasarkan pada ada tidaknya membran inti sel.

 Sumber gambar : https://blog.ruangguru.com
5)    Sistem enam Kingdom, diusulkan oleh Carl Woese pada tahun 1977. Woese membagi monera menjadi dua kingdom, yaitu Archaebacteria dan Eubachteria sehingga terdapat enam kingdom. Pada tahun 1990, Woese dan rekan-rekannya kembali mengusulkan sistem pengelompokkan mahluk hidup menjadi tiga domain, yaitu Bacteria (dari Eubackteria), Archaea (dari Archaebacteria) dan Eukarya( didalamnya terdapat Protista, Fungi, Plantae dan Animalia)

 Sumber gambar: https://id.wikipedia.org/

4.     Takson dalam Sistem Klasifikasi.
Kelompok mahlukhidup yang terbentuk dari hasil pengklasifikasian disebut takson. Pembentukan takson berjenjang secara teratur. Untuk setiap tingkat takson diberi nama tertentu.

Tingkatan-tingkatan klasifikasi dari tingkatan tertinggi (kingdom) sampai tingkatan terendah (spesies) adalah sebagai berikut:
a.     Kingdom (Dunia)
b.     Filum/Devisio
Filum biasanya digunakan untuk hewan, sedangkan devisio digunakan untuk tumbuhan.
c.     Kelas
d.     Bangsa
e.     Suku
f.      Marga
g.     Jenis.


Sumber : Nunung Nur Hayati dkk, BIOLOGI UNTUK SMA Kelas X, Irama Widya, Bandung,

KEGIATAN MANUSIA YANG MEMPENGARUHI BIODIVERSITAS

KEGIATAN MANUSIA YANG MEMPENGARUHI BIODIVERSITAS




Manusia merupakan slah satu komponen ekosistem yang dapat mempengaruhi ekosistem tersebut demi kelangsungan hidupnya. Manusia dapat melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan produksi komponen biotik ekosistem, tetapi sebaliknya ulah manusia juga dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. Berikut adalah kegiatan manusia yang dapat menurunkan keanekaragaman hayati.

1.      Pembukaan Hutan

Indonesia setiap tahun kehilangan 2 juta hektar hutan. Pembukaan hutan dengan alasan apapun, seperti untuk lahan pertanian, perumahan, pertambangan dan industri sebagai akibat pertambahan populasi manusia akan berakibat terhadap keseimbangan ekosistem hutan. Akibat yang ditimbulkan adalah terjadinya penggundulan hutan yang selanjutnya akan mengakibatkan banjir. Kegiatan pembukaan hutan akan menghilangkan beribu-ribu spesies asli yang ada di hutan dikarenakan kehilangan habitatnya.
Contoh :
a.       Semakin langkanya jalak putih Bali karena habitanya tergusur
b.      Menurunnya jumlah harimau jawa akibat habitatnya menyempit
c.       Terancam punahnya 126 jenis burung karena pembabatan hutan

2.      Eksploitasi Sumber Daya Alam Yang Berlebihan

Pertambahan populasi manusia yang sangat cepat berakibat pada tingkat pengambilan sumber daya alam hayati yang melebihi batas regenerasi dan reproduksinya. Hal ini diperparah dengan sifat serakah untuk menimbun kekayaan sebagai simbil kesuksesan manusia. Kenyataan semacam itu, menyebabkan manusia berlomba mengambil sumber daya alam sehingga menyebabkan kepunahan pada berbagai jenis mahluk hidup. Hal ini berarti menurunnya keanekaragaman hayati.
Contoh:
a.       Perburuan arwana untuk dikoleksi
b.      Perburuan berbagai jenis ular untuk diambul kuitnya, dan lain-lain.

3.    Pencemaran lingkungan

Peningkatan pemukiman dan industri akan membawa konsekwensi terciptanya limbah yang akan mencemari lingkungan, baik air maupun udara. Pencemaran merupakan perubahan lingkungan akibat ulah mansuia. Perubahan lingkungan akan memberi tekanan terhadap mahluk hidup yang akan sangat membahayakan kelangsungan biodeversias di permukaan bumi.
Contoh:
a.       Semakin langkanya jenis-jenis ikan air tawar yang ada di sungai-sungai sebagai akibat pencemaran limbah industri
b.      Matinya ribuan ikan laut di pantai akibat pencemaran limbah industri, dan lain-lain

4.      Budi daya Monokultur dan Dampak Negatif Rekayasa genetik


Sistem pertanian monokultur yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pangan berpengaruh negatif terhadap jenis-jenis tumbuhan yang kurang bersifat unggul, karena menjadi kurang dibudidayakan dan hilang dari lingkungan, sehingga menjadi punah. Selain itu, pemanfaatan bibit unggul tahan hama dan penyakit hasil rekayasa genetik juga dapat menyebabkan erosi plasma nutfah bagi tanaman yang tidak tahan terhadap hama dan penyakit.

UPAYA PELESTARIAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DI INDONESIA

Upaya konversi hutan tropis menjadi lahan pertanian dan penggundulan hutan akibat illegal logging berdampak besar pada proses kehilangan sumber daya alam hayati. Tidak mengherankan bila Indonesia memiliki daftar jenis tumbuhan dan hewan yang terancam dari kepunahan yang terpanjang di dunia. Sudah tercatat paling tidak ada 126 jenis burung, 63 jenis hewan mamalia, dan 21 jenis hewan melata yang dinyatakan dunia terancam punah. Populasi kayu ramin menipis, kayu gaharu terancam punah.

Dengan menurunnya keanekaragaman hayati maka manusia perlu melakukan upaya-upaya dan aktivitas yang dapat melestarikan dan mengembangkan keanekaragaman hayati. Ada dua cara pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia, yaitu pelestarian in situ dan ek situ

1.      Pelestarian in situ, yaitu suatu upaya pelestarian sumber daya alam hayati di habitat atau tempat aslinya. Hal itu, dilakukan dengan pertimbangan karakteristik tumbuhan atau hewan tertentu sangat membahayakan kelestariaannya apabila dipindahkan ke tempat lainnya.
Contoh:
a.       Suaka marga satwa untuk Komodo di Taman Nasional Komodo, Pulau Komodo
b.      Suaka marga satwa untuk badak bercula satu di Taman Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat
c.       Pelestarian Bunga Raflessia Arnoldii di Taman Nasional Bengkulu
d.      Pelestarian Terumbu Karang di Bunaken

2.      Pelestarian Ek situ, yaitu upaya pelestarian yang dilakukan dengan memindahkan ke tempat lain yang lebih cocok bagi perkembangan kehidupannya.
Contoh:
a.       Kebun raya dan kebun koleksi untuk mengoleksi berbagai tumbuhan langa dalam rangka melestarikan plasma nutfah
b.      Penangkaran Jalak Bali di Kebun Binatang Wonokromo



Sumber : R. Gunawan Susilowarno, dkk, BIOLOGI untuk SMA/MA Kelas X, Grasindo, Jakarta 2007