Yang Wajib diketahui oleh Anda Tentang Toh BRAHMA Atau Tanda Lahir





Toh Brama,

Nama medis dari tanda lahir jenis ini adalah hemangioma infantile dalam budaya Jawa bermaksud tanda lahir yang melekat pada bayi yang baru dilahirkan, toh brama biasanya menempel di bagian-bagian tertentu bayi, seperti di pinggul, punggung, payudara, atau bahkan ada juga yang menempel pada kemaluan. 

Toh Brama secara tampilan dapat dibagi dalam dua jenis, ada yang berwarna merah ada juga yang berwarna coklat kehitam-hitaman, namun belakangan yang berwarna coklat kehitam-hitaman kemudian dinamakan dengan  
tompel sehingga toh brama jenis ini dalam budaya jawa pada nantinya dikeluarkan dari spesifikasi jenis toh brama itu sendiri meskipun secara modelnya menyerupai. 

MITOLOGI TOH BRAHMA

Banyak mitos seputar tanda kelahiran di masyarakat. Banyak yang lucu dan tak masuk akal, tapi masih banyak yang meyakininya., diantaranya:

Mitos1 .  Ada yang bilang jika ibu hamil sering menatap api, bayi yang nanti akan lahir akan mendapatkan tanda lahir seperti luka bakar atau bekas terbakar. Masuk akalkah?

Mitos 2.  Ada lagi! Seorang ibu hamil yang sedang “ngidam” tapi tak pernah kesampaian, nah, anaknya akan menanggung tanda lahir seperti “idaman” sang ibu. Misalnya, jika Ibu mendambakan untuk makam stroberi, namun tidak bisa memakannya, maka bayi akan lahir dengan tanda lahir merah. Kalau sang ibu ngidam ubi ungu, tanda lahir anaknya akan berwarna ungu.

Mitos 3. Jika bayi memiliki tanda lahir seperti bentuk bulan, salib atau berbentuk tanda cium, maka bayi dianggap sebagai pemberian Ilahi. Dalam masyarakat Indonesia sendiri, tanda lahir bayi seperti ini masih dipercaya sebagai hal sakral dan petunjuk dari Yang Maha Kuasa.

Mitos 4. Bayi yang lahir dengan tanda terletak di tengah-tengah dada atau tanda lahir seperti bintang atau berbentuk hati dianggap sebagai bayi yang paling beruntung.
Dan sebenarnya masih banyak lagi mitos-mitos yang berkembang dimasyarakat dan sebagain masih mempercayainya.

APAKAH TOH BRAHMA BERBAHAYA?
TOH umumnya akan memudar saat bayi berusia 1-2 tahun, namun ada beberapa jenis TOH yang perlu diwaspadai.

 
Hemangioma atau strawberry marks (bisa berbahaya), berwarna merah cerah seperti strawberry dan kadang baru muncul setelah bayi berusia beberapa minggu. Strawberry marks ini akan tumbuh selama 6 bulan pertama, tapi akan mengecil kembali dan hilang saat anak berusia 5-9 tahun.



Umumnya hemangioma ini tidak menimbulkan keluhan, tapi komplikasi akan muncul jika lokasinya melebar hingga menutupi mata, mulut atau hidung yang dapat mengganggu penglihatan, makan, bernapas atau fungsi tubuh lain. Untuk mengetahui apakah tanda lahir ini perlu diobati atau tidak, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter karena tidak semua hemangioma harus dihilangkan.

Noda port anggur atau port-wine stains (bisa berbahaya)
Tanda ini merupakan perubahan warna yang terlihat seperti anggur tumpah dan paling sering di wajah, leher, lengan atau kaki. Tanda lahir ini cenderung akan bertambah gelap dan menebal serta tidak akan hilang dengan sendirinya. Ada kemungkinan pertumbuhan berlebih ini berasal dari jaringan lunak atau tulang. Jika tanda terletak di dekat mata, sebaiknya segera konsultasikan untuk mencegah komplikasi.

APAKAH TOH BRAHMA BISA DIHILANGKAN?



Dapat dihilangkan atau tidak pun, tergantung dari hasil pemeriksaan. Metode penghilangannya cukup bervariasi, antara lain bedah pisau biasa, sinar non laser, laser, atau kombinasi antara bedah pisau dan sinar laser.
Anda juga bisa mencoba menggunakan minyak zaitun untuk menghilangkan tanda lahir secara alami. Minyak zaitun dapat berfungsi sebagai pelembab alami yang mampu membantu memutihkan sel kulit yang mengalami kerusakan dan dapat membuat permukaan kulit menjadi lebih lembut dan dapat membantu mengurangi warna tanda lahir.


APAKAH TOH BRAHMA MEMBAWA KESIALAN?

Jika di Jawa TOH BRAHMA dianggap sebagai tanda kesialan, maka tidak demikian dengan budaya Arab, yang dimaksud dengan budaya Arab dalam bahasan kali ini adalah Islam, meskipun budaya Arab juga pada dasarnya tidak bisa semuanya diidentikan dengan Islam. 

Toh Brama dalam budaya Arab disebut Khatam, yang mana tanda kelahiran tersebut dipercaya merupakan tanda kebaikan, atau keberuntungan, dengan demikian dapatlah dinyatakan bahwa siapapun yang memiliki khatam maka baginya mempunyai tanda-tanda keistimewaan.

Dalam Islam sendiri makna  khtam secara khusus bermaksud tanda-tanda kenabian yang melekat pada Nabi Muhamad SAW. Namun jika ditinjau dari tampilan khatam yang melekat pada tubuh Nabi Muhamad SAW sebagaimana yang dipaparkan dalam hadist-hadist sohih maupun penjelasan para sahabat maupun ulama jelas Khatam yang melekat pada Nabi tersebut pada dasarnya adalah Toh Brama.

Demikian bukti-bukti persamaan Toh Brama dengan Khatam sebagaimana yang terdapat dalam penjelasan Ulama dan hadist-hadist yang membahas mengenai Khtam;

Dikutip dari https://salafytobat.wordpress.com, di jelaskan bahwa:
Dari as-Sa’ib bin Yazid r.a. dikemukakan:
“saudara ibuku membawa aku untuk menemui Nabi s.a.w., lantas ia berkata kepada Rasulullah s.a.w.: ,’ anak saudaraku ini sakit.’
Ketika itu, Rasulullah s.a.w. menyapu kepalaku (as-Sa’ib), mendoakan keberkahan untukku dan berwudhu. Air sisa wudhu’nya lalu kuminum. Setelah itu, aku berdiri di belakangnya; aku memandang kepada khatam (tanda) yang terletak di antara kedua bahunya. Ternyata, khatam itu sebesar telur burung dara.”
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id dari Hatim bin Ismail, dari Ja’d bin ‘Abdurrahman yang bersumber dari Sa’ib bin Yazid r.a.)
dari Jabir bin Samurah r.a. mengemukakan perihal Khatamun-Nabi sebagai berikut:
“Aku pernah melihat khatam (kenabian)… Ia terletak di antara kedua bahu Rasulullah s.a.w. Bentuknya seperti sepotong daging berwarna merah sebesar telur burung dara.”
(Riwayat Sa’id bin Ya’qub at-Thalaqani dari Ayub bin Jabir, dari Simak bin Harb yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.)
Seorang wanita bernama Rumaitsah bercerita kepada cucunya, yaitu Ashim bin ‘Umar r.a. sebagai berikut:
“Waktu aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, aku duduk berdampingan dengan beliau s.a.w., begitu dekatnya, seandainya aku mahu mengucup tanda kenabian yang terletak di antara kedua bahunya, tentu dapat kulakukan.
Adapun, sabda beliau yang ditujukan kepada Sa’ad bin Mu’adz di kala meninggal dunia ialah: ‘bergoncang Arasy Allah yang Maha Rahman kerananya (kerana kematian Sa’ad).’”
(Riwayat Abu Mush’ab al-Madini, dari Yusuf bin al-Majisyun, dari bapanya, dari ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah yang bersumber dari neneknya, iaitu Rumaitsah)
Ibrahim bin Muhammad pernah mendengar salah seorang putera ‘Ali bin Abi Thalib k.w. berkata:
“Apabila ‘Ali k.w. menceritakan sifat Rasulullah s.a.w., maka ia akan bercerita panjang lebar. Dan ia akan berkata: ‘Di antara kedua bahunya terdapat Khatam kenabian, iaitu Khatam para Nabi.’”
(Riwayat Ahmad ‘Ubadah ad-Dlabi ‘Ali bin Hujr dan lainnya, yang mereka terima dari Isa bin Yunus dari ‘Umar bin ‘Abdullah, dari ‘Ibrahim bin Muhammad yang bersumber dari salah seorang putera ‘Ali bin Abi Thalib k.w.)
Dalam suatu riwayat, Alba’ bin Ahmar al-Yasykuri mengadakan dialog dengan Abu Zaid ‘Amr bin Akhthab al-Anshari r.a. sebagai berikut:
“Abu Zaid berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda kepadaku: ‘Wahai Abu Zaid mendekatlah kepadaku dan usaplah belakang tubuhku.’
Maka belakang tubuhnya kuusap, dan terasa jari jemariku menyentuh Khatam. Aku (Alba’ bin Ahmar al-Yaskuri) bertanya kepada Abu Zaid: ‘Apakah khatam itu?’

Mudah-mudahan bermanfaat.


Baca juga  5 jenis tanda lahir (TOH)

Berlangganan Untuk Menerima Update Terbaru: