19 May 2019

Antara Tuhan dan Ego-Renungkanlah?



Ternyata tidak terlalu gampang membedakan Tuhan dan Ego. Sering kita merasakan bahwa yang kita lakukan itu sebenarnya keinginan Ego, tetapi dengan mudah berkilah bahwa itu panggilan Tuhan. Sering kita meneriak-neriakan kata Tuhan, kita katakan membela Tuhan, tetapi sebenarnya hanya katena desakan ego kita. Kita sebut “Alloh” padahal penyebutannya itu karena dorongan hawa napsu. Karena ego kita.

Misalnya ada orang adu jotos (petinju), keduanya menyebut “God.....”.

Juara tinju kelas berat WBC, Deontay Wilder beradu kata-kata dengan penantangnya Dominic Breazeale menjelang laga mereka di Barclay Center Brooklyn, New York pada Sabtu 18 Mei 2019. (Amanda Westcott/Showtime)
Sumber gambar: https://sport.tempo.co/read/1206639/tinju-dunia-video-suasana-timbang-badan-wilder-vs-breazeale/full&view=ok

Lagi pada pertandingan sepakbola “Word Cup” di TV, kedua kesebelasan berasal dari negara-negara yang gamanya sama.   Beberapa pemain dari kedua kesebelasan tersebut memanjatkan do’a. Rupanya masing-masing kesebelasan itu berharap diberi kemenangan oleh Tuhan yang sama. Hal yang demikian itu juga merupakan bentuk kepentingan pribadi, egonya.

Ada seseorang yang bernama A. A adalah orang yang rajib beribadah, tak pernah ada amalah solat yang terlewatkan. Ia pamit dulu kepada teman-temannya dalam satu tim, bila waktu solat tiba. Tak peduli temannya lagi sibuk mengerjakan tugas bersama. Suatu hari A bertanya kepada temannya:
 

“Apa yang kamu lakukan jika kamu hendak solat, lalu kamu melihat orang yang mengalami kecelakaan yang bisa merenggut nyawanya?’
Apa Jawabannya...?
“Saya akan lakukan solat dulu, baru menolongnya bila masih dapat ditolong”.
Bagaimana kalau ia keburu meninggal? Tanya A
Jawaban teman A ini mengejutkan:
“Ini namanya takdir! Kalau belum takdirnya, ia pasti masih sempat saya tolong setelah saya selesai solat”.
Ini memang betul-betul mentaati Tuhan atau justru karena dorongan egonya yang kelewat besar.

 
Ketika melihat demonstran di TV dengan wajah yang berapi-api meneriakkan “Allohu Akbar”, ini juga perlu dipertanyakan apakah murni lahir dari nurani untuk mematuhi Alloh, atau untuk membela kepentingannya (egonya). Betapa banyak orang meneriakan kata “Alloh....Alloh...”, tetapi sikapnya berlawanan dengan kelembutan Alloh. Bahka lebih miris lagi banyak orang yang tidak mengenal Alloh dengan entengnya menyebut namaNya. Nama tuhan hanya terhenti di bibir, Cuma dibibir, tak lebih.

Tuhan adalah Zat Wajibul Maulana yang senantiasa membimbing manusia menuju kehidupan yang lebih baik, sejahtera. Tuhan ar-Rahman dan ar-Rahim, maha pemurah dan maha penyayang. Agama datang membawa misi untuk keselamatanm dunia, tentu saja untuk keselamatan manusia. Tetapi kalau kita berbicara jujur, kita tahu bahwa banyak orang yang merasa terancam keselamatannya oleh sekelompok orang yang merasa mempunyai otoritas dalam memaksakan agama. Alasannya....orang tak boleh dipaksa masuk ke suatu agama, tetapi kalau sudah masuk harus dipaksa!. Ini kan namanya sudah bersaing dengan Tuhan. Lho bagaimana ini, orang memerintah pemeluk agama untuk menjalankan syariat agamanya koq dikatakan bersaing dengan Tuhan, apa ga salah?

Inilah yang perlu dicermati agar dorongan ego tidak disamakan dengan seruan Tuhan.
Tuhan memberi apa yang diperlukan manusia sebelum manusia memintanya. Itu lah Dia Yang Maha Pemurah!. Agama diturunkan sebagai wahana agar manusia bisa berada di jalan yang benar. Tidak ada orang yang menerima otoritas dari Tuhan untuk memaksakan agama. Bahkan Nabi Muhammad hanya diperintah oleh Tuhan untuk memberikan pelajaran, dan tidak untuk menguasai. Perhatikan Q.S Al-Ghosyiyah (88);21-22 yang artinya:

21. Maka berilah peringatan, karena Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.
22. kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,

Menilik sejarah di zaman Syeh Siti Jenar, ada kelompok ulama yang memihak raja dalam pengamalan syariat agama, dan ada yang tidak mau terjebak kekuasaan. Siti Jenar termasuk orang yang tidak mau mengaitkan dirinya pada kekuasaan dalam menjalankan kehidupan beragaman. Dia memilih hidup beragama yang independen, bebas dari kekuasaan raja. Walaupun pada saat itu kehidupan di Kerajaan Demak tidak kondusif bagi pelaksanaan keagamaan yang tidak sepaham dengan madzab pengauasa Demak. Akhirnya terjadi konflik terbuka antara Syeh Siti Jenar beserta pengikutnya dengan penguasa Demak yang disokong oleh para Wali.

Jika agama sudah dikaitkan dengan politik, maka kehidupan agama tidak lagi menjadi jalan hidup. Pihak yang menang akan mengatakan aturan yang dipegangnya itu yang benar, dan pihak yang kalah dikatakan salah. Agama buka lagi menjadi jalan damai, namun agam hanya sebatas dogma. Dogma yang dipaksakan pelaksanaanya. Cara beragama yang dipaksakan adalah bentuk Ego.

Egolah yang memaksa orang untuk menjalankan  kehidupan beragama dengan syariat tertentu. Dengan memaksa orang lain sepaham dan sepihak dengan kita, berarti kita tidak bisa menerima cara yang ditempuh oleh orang lain. Melindas orang yang tidak sepaham dengan kita adalah tindakan Ego, bukan seruan Tuhan.

Tuhan mencintai orang-orang yang mencintai tetangganya, menghormati tamunya, dan tolong menolong dalam kebajikan. Syukur, akan menciptakan nilai tambah dalam kehidupan ini, menciptakan kemudahan dalam kehidupan ini, memelihara ketertiban dan menjaga keamanan bersama adaah wujud ketaqwaan.

Namun jika hati telah di selimuti Ego, maka ia lebih mementingkan dirinya daripada umum. Kalau toh pandangannya itu kelihatan benar, tetapi dimaksudkan untuk kepentingan golongan. Marasa yang paling benar dan orang lain salah. Lebih suka hidup homogen daripada hidup yang pluralistis. Lebih senang menggunakan ayat-ayat kitab suci sebagai pembenaran dari pada mencoba mencari solusi terhadap kenyataan yang ada.

Disarikan dari :  Achmad Chodjim, Syekh Siti Jenar-Makna Kematian, Serambi Ilmu Sejahtera, Jakarta, Cetakan XX, 2013, hal 62-69

17 May 2019

Bagaimanakah Peranan Jantung dalam Perspektif Islam ?



Bila kepada Anda diajukan pertanyaan; Apakah organ tubuh yang berfungsi untuk melihat? Jawabannya pasti mata. Demikian pula jika ditanyakan; apakah organ tubuh yang berfungsi untuk mendengar? Telinga, itu pasti jadi jawabannya. Organ tubuh yang berfungsi untuk mencium bau? Hidung, demikian Anda akan menjawab. Organ tubuh yang berfungsi untuk mengecap dan mendeteksi rasa makanan? Jawaban Anda sudah bisa dipastikan, lidah. Organ tubuh untuk merasakan suhu, panas atau dingin?
Kulit, sangat mudah Anda menjawabnya.

Bila pertanyaan berlanjut tentang organ tubuh yang berfungsi untuk memikirkan sesuatu? Umumnya kebanyakan orang akan mejawab, otak sambil memegang kepalanya. Dan bila ditanyakan, apakah organ  tubuh yang berfungsi untuk merasakan bahagia atau sedih? Biasanya sebagian tampak kebingungan sambil berbisik, tidak ada organnya karena itu pekerjaan batin. Namun bagi yang menjawab akan mengatakan hati-lah yang berfungsi untuk merasakan bahagia dan sedih, senang dan duka.

Namun yang menarik adalah ketika diminta menjawab sambil menunjukkan tempat organ itu berada, Anda dan juga hampir semua orang akan meletakkan tangan di dada untuk menunjukkan hati yang berfungsi untuk mengolah perasaan manusia. Menarik bukan?

Karena bukankah organ yang terletak dalam dada itu bukanlah hati, melainkan jantung, artinya telah terjadi kesalahan massal dalam memahami dan menggunakan kata “hati” dalam masyarakat kita, baik kalangan akademik atau terpelajar maupun awam. Kita sering keliru membedakan mana fungsi hati dan mana fungsi jantung.
Fungsi jantung yang sebenarnya

Untuk memiliki pemahaman yang utuh mengenai jantung, berikut ini adalah kesimpulan dari hasil kajian Dr. Abd Daim Kahil, seorang ilmuwan pengkaji mukjizat saintifik Al-Qur’an dari Syria, Setelah meneliti 70 referensi ilmiah mengenai jantung, Kahil mencatat kesimpulan sebagai berikut:

v  Mulai abad 21 dan sejak perkembangan pesat bidang pencangkokan jantung dan pembedahan jantung buatan, para peneliti mulai menyadari adanya fenomena aneh dan samar yang terjadi pada psikologis pasien setelah pencangkokan jantung. Kahil menyimpulkan bahwa jantung memiliki peranan vital dalam psikologis manusia. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perubahan psikologis pasien yang jantung aslinya diganti oleh jantung buatan.

v  Temuan menarik pada semua orang yang mengganti jantungnya dengan jantung buatan, mereka telah kehilangan perasaan dan kemampuan untuk mencinta. Pada 11/8/2007, koran Washington Post memuat laporan tentang Peter Houghton yang melakukan operasi pencangkokan jantung buatan. Dia berkata: “Perasaanku telah berubah, saya tidak mampu mengetahui apa yang saya benci dan apa yang saya cintai, bahkan saya tidak punya rasa apa pun kepada cucu-cucu saya.”

v  Prof. Gary Schwartz specialis kejiwaan di Universitas Arizona dan Prof. Linda Russek yakin kalau jantung memiliki kekuatan khusus yang membuatnya dapat menyimpan dan mengolah informasi. Karenanya memori itu tidak saja ada di otak tapi juga di jantung. Prof. Gary melakukan penelitian yang melibatkan lebih dari 300 pasien yang melakukan operasi pencangkokan jantung. Dia menemukan kalau semua pasien itu mengalami berbagai perubahan psikologis setelah operasi.

v  Rollin McCraty dan Mike Atkinson melakukan penelitian yang dipublikasikan di pertemuan tahunan Pavlovian Society. Mereka menemukan adanya hubungan antara jantung dan kesadaran.
Mereka membuktikannya dengan mengukur aktivitas elektromagnetik jantung dan otak saat orang berusaha memahami sesuatu. Mereka menemukan bahwa saat performa jantung pada level rendah, kesadaran pun akan rendah.

v  Setelah melakukan banyak penelitian, Dr. Paul Pearsall berkata: “Jantung dapat merasa dan mengingat dan ia mengirimkan getaran untuk berkomunikasi dengan jantung-jantung lain. Ia juga membantu pengaturan imunitas tubuh. Ia juga mengirimkan informasi pada setiap detakan ke seluruh tubuh.” Beberapa peneliti bertanya: “Mungkinkah ingatan tetap di lubuk jantung terdalam?” Di dalam bukunya, Dr. Paul menulis: “Saat tiba-tiba Anda merasa gembira atau sedih, Anda menempelkan tangan di dada tanpa Anda sadari.”

v  Jantung berisi jaringan neuron yang rumit. Ia mengeluarkan hormon-hormon yang mengendalikan seluruh badan. Ia dapat mengingat, merasa dan mengendalikan emosi setiap detakannya dengan mengirim pesan pesan ke otak dan semua organ-organ tubuh. Pesan-pesan ini tak lebih dari sinyal-sinyal elektromagnetik. Performa jantung dan sinyal sinyal itu berubah sesuai status jantung.

Dari temuan-temuan ilmiah tersebut dapat disimpulkan bahwa fungsi jantung yang sesungguhnya adalah lebih dari sekadar memompa darah dan menyuplai oksigen, namun juga berfungsi untuk berpikir dan merasakan berbagai emosi yang terjadi dalam diri kita. Itulah karenanya, ketika kita merasa sedih, kecewa, marah, atau bahagia tanpa sadar tangan kita memegang dan mengelus dada, karena di dalam jantung yang tersimpan dalam dada itulah segala perasaan bermuara.

Kembali kepada pertanyaan di awal tulisan ini, jawaban untuk pertanyaan; apakah organ tubuh yang berfungsi untuk merasakan bahagia dan sedih, adalah jantung, bukan hati. Hati yang terletak di sebelah kanan perut kita sama sekali tidak memiliki fungsi untuk berpikir dan merasa.

Di sinilah terjadi kerancuan itu, kata yang dipilih adalah hati tetapi organ yang ditunjuk adalah jantung, padahal keduanya jelas berbeda. Artinya menyebut hati sebagai organ yang berfungsi untuk merasa adalah kesalahan bahasa yang terlanjur menjadi ‘kesepakatan’ bangsa kita.

Dalam bahasa Arab jantung itu disebut (qalb). Demikian pula ketika berbicara mengenai perasaan, untuk menyatakan hati senang misalnya diungkapan dengan (fariha qalbi).

Jantung Pusat Iman
Ada sebuah kisah, ada seorang wanita menikah dengan seorang pria, 2 tahun kemudian pria ini menembak diri dalam keadaan atheis. Dokter mengatakan Jantungnya sehat, lalu dicangkokkan kepada seorang pria beriman yang memerlukan. Secara tidak sengaja, pria beriman ini bertemu dengan wanita ‎‎(janda pria yang bunuh diri) tadi. Saat dia melihat janda ini, ia merasa telah mengenalnya, kemudian bilang kalau dia mencintai janda ini dan tidak dapat hidup tanpanya. Yang mengejutkan, pria beriman ini menjadi atheis sampai kemudian bunuh diri dengan senjata api. Dia menembak kepalanya sendiri dan mati dengan cara yang sama seperti pria pertama. (Daily Mail, ‎‎10/4/2008). Penjelasan sederhananya adalah: Kesadaran dan pusat pemikiran ada di Jantung, bukan di Otak.
Banyak kisah tentang orang yang memakai Jantung buatan yang kehilangan Iman kepada Tuhan .Ini berarti Iman adanya di Jantung bukan di Otak. Dalam hal ini, Allah berfirman: “Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: ‎‎"Kami telah beriman", padahal Qalbu mereka belum beriman” (Al-idah 5:41)“.. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada Qalbunya ..”(At-Taghâbun 64:11)
Hubungan Qalbu dan belajar di dalam al-Quran, Allah berfirman:“… dan Allah telah mengunci mati Qalbu mereka, maka mereka tidak mengetahui “ (At-Taubah 9:93)

Pandangan Quran tentang Peranan Jantung dalam Kesadaran, memori, belajar dan memahami

Fungsi jantung yang mengejutkan para ilmuwan melalui temuan mereka di awal abad 21 dengan berbagai kesimpulan-kesimpulan yang dipaparkan diatas, sesungguhnya telah disebutkan dalam Al-Qur’an ribuan tahun yang lalu.

Bacalah surat Al-Hajj ayat 46:
46. Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.

Atau surat Al-A’raf ayat 179 yang dengan jelas menjelaskan fungsi setiap indera:
179. dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.

Ayat ini jelas memberitahukan kepada kita tentang Qalbu sebagai pusat Kesadaran tubuh manusia. Qalbu adalah cara memahami 1. Qalbu adalah alat berfikir. 2. Mata adalah alat melihat. 3. Telinga adalah alat mendengar.
Jelaslah bagaimana Al-Qur’an mengenalkan fungsi jantung yang sesungguhnya sejak ia diturunkan lebih dari 1.440 tahun yang lalu.

Dari sini juga dapat diketahui terjadi kerancuan terjemah kata qalb dalam Al-Qur’an dengan hati. Qalb dalam Al-Qur’an merujuk pada jantung bukan hati.

Kesehatan kita diukur dari kesehatan Qalbu. Ketika Qalbu berhenti, berarti hidup kita “TAMAT”. Rosulllah sallalahu’alaihi wasallam telah bersabda “Di dalam tubuh manusia itu ada segumpal darah, apabila segumpal darah itu baik maka baiklah seluruh tubuh manusia itu, dan apabila segumpal darah itu rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya. Dia itu adalah Qalbu” (H.R. Bukhari)

Disarikan dari sumber:
https://www.academia.edu/8077147/Bagaimana_sebenarnya_pandangan_islam_mengenai_peranan_jantung_bagi_tubuh_

16 May 2019

Ciri, Cara Reproduksi, dan Bentuk Bakteri (Eubacteria)

Bakteri adalah organisme prokariotik uniseluler yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskip. Bakteri hidup disekitar kita dan juga didalam tubuh kita. Cabang ilmu biologi yang mempelajari bakteri disebut bakteriologi. Bakteri bersifat kosmopolit dan hingga kini telah diketahui lebih dari 5000 spesies bakteri yang terdapat dibumi.

Bakteri mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1.   Dinding sel bakteri tersusun atas mukopolisakarida dan peptidoglikan. Peptidoglikan terdiri atas polimer besar yang tersusun atas N-asetil glukosamin dan N-asetil muramat, yang saling berikatan silang dengan ikatan kovalen.
2.  Sel bakteri dapat mensekresikan lendir ke permukaan dinding selnya. Lendir yang terakumulasi dipermukaan terluar dinding sel akan membentuk kapsul. Kapsul ini berfungsi untuk perlindungan. Bakteri berkapsul sering menimbulkan penyakit dibanding dengan bakteri yang tidak berkapsul.
3.    Membran sitoplasma meliputi 8-10 % dari bobot kering sel dan tersusun atas fospolipid dan protein. Fungsi utama membran sitoplasma adalah sebagai alat tranpor elektron dan proton yang dilepaskan pada waktu oksidasi bahan makanan. Membran sitoplasma juga berfungsi mengatur pengangkutan senyawa yang memasuki dan meninggalkan sel.
4.   Sitoplasma dikelilingi oleh membrfan sitoplasma dan tersusun atas 80% air, asam nukleat, protein, karbohidrat, lemak dan ion anorganik serta kromatopora.  Didalam sitoplasma terdapat ribosom-ribosom kecil, RNA dan DNA.
5.   Pada kondisi yang tidak menguntungkan, bakteri dapat membentuk endospora yang berfungsi melindungi bakteri dari panas dan gangguan alam.
6.   Bakteri ada yang bergerak dengan flagel dan ada yang tidak. Bakteri tanpa flagel bergerak dengan cara berguling.
Perhatikan gambar!



Gambar struktur bakteri
Sumber gambar : https://satujam.com/struktur-bakteri/

Reproduksi Bakteri

Bakteri bereproduksi secara aseksual dengan pembelahan biner. Pada lingkungan yang mendukung pertumbuhannya, bakteri dapat membelah diri tiap 20 menit.
Reproduksi seksual tidak dijumpai pada  bakteri, tetapi terjadi pemindahan materi genetik dari satu sel bakteri ke bakteri lain tanpa menghasilkan sigot. Peristiwa ini disebut paraseksual.


Ada tiga cara paraseksual yang telah diketahui, yaitu transformasi, konjugasi, dan transduksi.
1.   Transformasi adalah pemindahan sedikit materi genetik (DNA) atau bahkan satu gen saja dari satu bakteri ke bakteri lain dengan proses fisiologi yang komplek. Proses ini pertama kali dikemukakan oleh Frederick Griffith pada tahun 1982. Bakteri yang melakukan transformasi antara lain : Streptococcus pneumoniae, Haemophilus, Bacillus, Neisseria, dan Pseudomonas.

2.    Konjugasi adalah pemindahan secara langsung materi genetik (DNA) di antara dua sel bakteri melalui jembatan sitoplasma. Bakteri yang memberikan DNA-nya disebut bakteri donor. Bakteri donor memiliki tonjolan yang disebut pili seks, yang berguna untuk menempel pada bakteri resipien yang menerima DNA. Kemudian jembatan sitoplasma sementara akan terbentuk di antara dua sel bakteri. Lewat jembatan inilah DNA bakteri donor akan mengalir ke bakteri resipien.

3.   Transduksi, adalah pemidahan materi genetik dengan perantara bakteriofage. Cara ini dikemukakan oleh Norton Zinder dan Joshua Lederberg pada tahun 1952

Perhatikan gambar!
 
Gambar pembelahan biner bakteri
Sumber gambar: http://artikel-ipa.blogspot.com/2013/11/perkembangbiakan-bakteri.html

Gambar konjugasi bakteri

Sumber gambar: https://www.slideserve.com/iden/bakteri-monera

Bentuk bakteri.
Bentuk bakteri sangat bervariasi,  tetapi secara umum ada tiga tipe, yaitu:
1.      Bentuk batang/silinder (basil)
2.      Bentuk bulat (kokus)
3.      Bentuk spiral (spirilium)
Variasi bentuk bakteri atau koloni bakteri dipengaruhi oleh arah pembelahan, umur, dan syarat pertumbuhan lainnya, misalnya makanan, temperatur, dan keadaan yang tidak menguntungkan bagi bakteri.

Perhatikan gambar!



Bentuk-bentuk bakteri
1.      Bentuk bakteri batang (basil)
Bakteri ini dibedakan sebagai berikut:
a.      Basil tunggal, berupa batang tunggal.
Contoh : Eschericia colli dan Salmonella typhi
b.      Diplobasil, berbentuk basil bergandengan dua-dua.
Contoh : Renibacterium salmoninarum
c.       Streptobasil, berupa batang bergandengan seperti rantai.
Contoh : Streptobacillus moniliformis dan Azotobacter sp.
2.      Bentuk bulat (kokus)
Bentuk ini dibedakan sebagai berikut:
a.      Monokokus, berbentuk bulat satu-satu.
Contoh : Monococcus gonorrhoeae
b.      Diplikokus, bentuknya bulat bergandengan dua-dua
Contoh : Diplococcus pneumoniae
c.       Streptokokus, bentuknya bulat bergandengan seperti rantai, sebagai hasil pembelahan sel ke sat atau dua arah dalam satu garis.
Contoh : Streptococcus salivarius, Streptococcus lactis, dan Streptococcus pneumoniae.
d.  Tetrakokus, berbentuk bulat terdiri atas empat sel yang tersusun dalam bentuk bujur sangkar sebagai hasil pembelahan sel kedua arah
e.     Sarkina, bentuknya bulat, terdiri atas 8 sel yang tersusun dalam bentuk kubus sebagai hasil pembelahan sel ke tiga arah.
Contohnya : Sarcina sp.
f.   Stafilokokus, berbentuk bulat, tersusun seperti kelompok buah anggur sebagai hasil pembelahan sel ke segala arah.
Contoh : Staphylococcu aureus
3.      Bentuk spiral (spirilium)
Bentuk bakteri ini dibedakan menjadi:
a.      Koma (vibrio), berbentuk lengkung kurang dari setengah lingkaran
Contoh : Vibrio comma, penyebab penyait kolera
b.      Spiral, berupa lengkung lebih dari setengah lingkaran
Contoh : Spirillium minor yang menyebabkan demam dengan perantara gigitan tikus atau hewan pengerat lainnya.
c.       Spiroseta, berupa spiral yang halus dan lentur
Contoh : Treponema pallidum, penyebab penyakit sipilis.

Referensi : Pratiwi D.A, dkk, Biologi Untuk SMA/MA Kelas X, Erlangga, Jakarta, 2017